Baiklah, teman-teman... keadaan di seluruh dunia tiba-tiba berubah
Bumi lelah menghadapi ulah manusia
Manusia lelah menghadapi manusia
Kini, waktunya bagi mereka untuk istirahat sejenak
Bercengkrama dengan keluarga
Belajar mencintai tempat tinggal kita
Dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung
Saatnya kembali merenung
Meratapi nasib kehidupan yang akan datang
Okay, itu hanyalah sebuah bait puisi yang aku tulis secara mendadak beberapa detik sebelum aku mengetik kalimat ini. Hehehe
Yah...sesuai dengan judul postingan kali ini. Pandemi Covid19 sudah berkeliling dunia. Parahnya, dia tidak hanya berkeliling, tetapi ikut campur pada kehidupan setiap individu di dunia ini. Dia menyerang siapapun tanpa mengenal pangkat dan derajat apalagi gender. Semua orang baik tua muda remaja menjadi sasaran empuk baginya. Dia terus-terusan menyerang dan sampai sekarang belum ada yang mampu melawannya.
Kan..ngedumel lagi...sok sastra banget sih lulu ini...
OK. Guys, sejujurnya ini sungguh-sunggu menyiksaku. Tapi bagaimana pun juga, setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Ya.. mungkin kita kurang bersyukur saja selama ini sudah hidup beberapa tahun di bumi. Sejak kejadian ini, aku tidak pernah menyetuh bebek honda kesayanganku lagi. Aku tidak pernah memberinya makan. Jas hujan yang baru saja aku beli karena yang lama sudah sobek juga tidak pernah terpakai sekalipun. Helm ku berdebu di rumah, sepatuku berbaris rapi di rak. Aku tidak pernah mencuci kaos kakiku lagi. Aku pun tidak perlu repot-repot mencari peniti untuk dipakai di hijabku.
Aku tidak pernah menyetuh lift kampusku, aku tidak menikmati rasanya buka puasa di kampus yang setiap harinya disuguh kurma dan teh panas. Aku tidak bisa merasakan dinginnya AC di setiap kelas. Aku tidak lagi merasakan betapa lelahnya berjam-jam melawan arus macet di jalan gejayan, jalan kaliurang dan sebagainya. Aku tidak pernah bertemu teman-teman dan dosen lagi.
Aku tidak lagi bersusah payah bikin materi atau soal untuk ku ajarkan pada anak-anak yang les bahasa inggris di selatan kampus UII. Aku juga tidak pernah datang lagi ke kantor dimana aku bekerja tepat di ringroad utara yang jauh disana. Semua hal yang membuatku lelah secara fisik tiba-tiba break.
Aku tidak lagi merasakan bagaimana aku setiap hari mampir ke Indomaret untuk sekedar membeli minuman botol, coca cola, pristine, atau sariroti. Aku juga tidak bisa curang jajan di mekdi setiap kali aku merasa stress terhadap dunia perkuliahan dan pekerjaanku. Aku tidak bisa curang jajan caddburry atau silverqueen atau dove supaya aku bisa tenang. Aku tidak bisa jajan sepuasnya yang aku mau karena aku harus berada di rumah setiap hari dan pola makanku sangat terjaga.
Yah...sebuah pandemi merubah semuanya. Kebiasaan yang biasa aku lakukan sekarang sudah tidak lagi aku lakukan. Bahkan memasuki bulan Ramadhan seperti ini, rasanya berbeda dari tahun sebelumnya. Tidak ada buka bersama, tidak ada tarawih, tidak ada tadarus, tidak ada buka puasa di tengah perjalanan. Sungguh ini sedikit menyiksa tapi sudah kehendak-Nya jadi kita sebagai manusia di bumi harus pasrah dan menghadapinya bersama. Bukan begitu?
Baiklah, semoga covid19 ini segera mereda dan kita semua bisa beraktivitas seperti biasanya lagi. Aamiin.