Ketika kamu sedang dibual rasa rindu, rasa cinta, kagum, atau suka pada seseorang, maka secara tidak langsung kamu akan menjadi orang itu. Kamu akan mengikuti gaya dia berbicara, mengetik sms, chatting, dan lain-lain. Apalagi bila kamu sudah pernah dan sering berinteraksi dengannya, baik bertemu langsung atau di media sosial. Yakin sekali pasti ada yang berubah dari diri kamu sekecil apapun itu.
Jatuh cinta itu antara bahagia dan menyakitkan. Bahagia disaat dia asik dengan kita. Menyakitkan saat dia asik dengan orang lain. Begitu saja siklus hidup pemuda masa kini. Sudah terlalu banyak godaan, apalagi adanya sosial media membuat dunia kita semakin luas bahkan tak memiliki batas. Kita bisa saja mengajak kenalan orang asing yang lama-lama menjadi bukan orang asing lagi. Kalau sesuai kriteria pas di hati pasti di gebet. Tapi saking luasnya dunia ini, membuat hati sering labil.
Terkadang orang sudah yakin akan pilihannya. Ya kemudian menjadi liar sedikit menemukan seseorang yang lebih baik lalu dia menjadi berpaling lagi. Memang begitu faktanya kehidupan saat ini. Tidak bisa mengandalkan kesetiaan.
Setia hanyalah -omong kosong- bagi sebagian besar orang. Pasti selalu ada yang terbaik dari yang terbaik. Bila seseorang mencintai karena begitu loyal, pengertian, dewasa, tanggung jawab. Lalu ada yang lebih dari itu ia bisa lebih loyal lebih pengertian dan lebih lebih. Pasti kita memilih yang paling baik. Karena hidup ini keras. Masa depan itu kejam. Tidak bisa diprediksi. Karena apa, untuk menjalani hidup di masa depan tidak hanya menyatukan dua orang tapi menyatukan dua hati, dua orang, dua pemikiran, dua keluarga, dua tanggungan yang amat besar, dan dua masa depan.
Kembali lagi ke topik awal. Jadi....
Bila kita menyukai seseorang, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Karena sekali lagi get married bukanlah hal yang instan seperti ind*mie. Berapapun umurmu akan menikah itu tidak masalah. Tidak ada kata -telat nikah- yang ada hanyalah telat berfikir dengan bijak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar